oleh

Sunat Bagi Pria Dewasa Ditinjau dari Keamanan dan Kesehatan

JakartaInframe.com – Khitan atau sunat adalah wajib hukumnya bagi pria muslim. Pada umumnya proses ini dilakukan sebelum menginjak usia baligh yakni sekitar 9-15 tahun, di mana ditandai dengan keluarnya mani.

Namun kini, banyak orang di luar pemeluk agama Islam telah menyadari bahwa sunat memberi dampak positif bagi kesehatan. Sehingga tidak sedikit pria yang telah menginjak dewasa untuk melakukan khitan.

Bicara sunat untuk pria dewasa, maka timbul pertanyaan apakah aman untuk dilakukan?

Ada beberapa metode yang dilakukan untuk sunat, mulai dari konvensional, laser atau electric couter, dan klamp.

Prof. Andi Asadul Islam, Ketua PP Ikatan Ahli Bedah Indonesia (IKABI) menerangkan, cara konvensional dalam berkhitan memiliki beberapa risiko yang tinggi.

“Dengan cara konvensional. Didahului anestesi, terus dipotong sedikit dari atas dulu bagian kanan, melingkar ke kanan, lalu melingkar ke kiri baru dijahit. Dengan pemotongan tersebut banyak risiko yang bisa dihadapi saat khitan seperti perdarahan dan infeksi yang cukup tinggi karena adanya luka terbuka,” ungkapnya kepada JakartaInframe.com, Kamis (9/4).

Meski demikian, Prof. Andi mengatakan, keputusan penggunaan metode khitan dikembalikan lagi pada pasien.

Sementara, pada metode laser, faktor risiko tergantung ukuran penis. Sebab, makin besar ukuran penis, makin besar juga pembuluh darah sehingga risiko perdarahan makin besar.

Prosedur laser disebutkan menggunakan semacam lempeng besi tipis yang dipanaskan dengan listrik. Prinsipnya, sama seperti solder. Ketika ujung lempeng menyala proses pemotongan pun dilakukan.

Sedangkan metode klamp, prosedur dilakukan tanpa jahitan dan menggunakan semacam alat penjepit. Lagipula, jika menggunakan klamp diameter penis maksimal yang dikhitan yakni 3,4 cm.

Perihal dampak positif sunat bagi kesehatan, dr. Boyke Dian Nugraha SpOG MARS menjelaskan bahwa khitan pada pria dewasa dapat mengurangi risiko tertular penyakit menular untuk pasangannya.

Dia mengatakan, banyak sekali permintaan sunat untuk orang dewasa muncul dari pihak perempuan. Diungkapkan pula, sunat atau sirkumsisi selain dari aspek agama dan budaya, juga ada aspek kebersihan dan kesehatan.

Seperti diketahui, virus HPV atau Human Papillomavirus memicu terjadinya penyakit menular seksual (PMS). Virus ini dalam kondisi tertentu bisa memicu kanker.

Selain itu, Boyke mengatakan pada pria yang tidak disunat, berpotensi terdapat kotoran, bakteri, atau virus lainnya di sekitar kepala penisnya.

Sebab dalam kondisi normal, kepala penis pria yang tidak disunat tertutup kulup atau kulit. Butuh perawatan khusus, seperti pembersihan secara berkala bagi pria yang tidak disunat.

Dia juga mengatakan ada sejumlah pasangan perempuan yang khawatir jika pasangannya tidak disunat terdapat bakteri Ecoli atau sejenisnya.

Genky, Youtuber lajang asal Jepang salah satu pelaku sunat dewasa yang turut hadir pada webinar  mengaminkan bahwa sunat berdampak positif bagi kesehatan.

“Meski dalam budaya Jepang tidak dikenal sunat, saya lakukan sunat demi kesehatan dan masa depan serta memilih melakukan sunat di Indonesia,” jelasnya.

Begitu pula dengan permintaan sunat bagi sang suami yang disampaikan oleh mistery guest yang dihadirkan dalam webinar, sebelumnya pernah menikah dengan pria yang telah disunat. Sedangkan saat ini suaminya belum disunat.

“Saya merasakan ada perbedaan antara suami yang telah disunat dan belum disunat, agak kerepotan untuk kebersihan dan merasa kurang nyaman saat berhubungan. Jadi kami memutuskan suami juga harus disunat agar pernikahan kami bahagia,” pungkasnya.***

Komentar

News Feed