oleh

Pemimpin Oposis Mali Meninggal Dunia Karena Covid-19

JakartaInframe.com – Soumaila Cisse, pemimpin oposisi utama Mali yang disandera selama enam bulan awal tahun ini oleh sebuah kelompok bersenjata dan dianggap sebagai pesaing utama dalam pemilihan presiden 2022, meninggal dunia karena Covid-19 di Paris dalam usia 71 tahun.

“Para dokter melakukan segalanya untuk membuatnya tetap hidup, tapi itulah cara Tuhan,” kata Bocar, putra sulung Cisse dilansir dari The Associated Press, Jumat (25/5/2020).

Kematian itu melemparkan politik Mali ke dalam ketidakpastian baru. Cisse sudah tiga kali mengikuti pemilihan Presiden Mali, dan banyak yang mengira dia memiliki peluang menang pada pemlihan Presiden 2022.

Dia disandera oleh kelompok yang berafiliasi dengan al-Qaeda pada Maret saat berkampanye untuk pemilihan legislatif di kampung halamannya di Niafunke, Mali utara.

Di tengah tekanan publik, pemerintah Mali memperoleh pembebasannya pada bulan Oktober bersama dengan sandera Prancis dan Italia, serta imbalan pembebasan sekitar 200 orang anggota kelompok tersebut dari penjara Mali.

Tidak diketahui apakah uang tebusan telah dibayarkan, meskipun kelompok ekstremis telah lama mendanai operasi mereka dengan pembayaran semacam itu dari pemerintah Eropa.

Dalam sebuah wawancara setelah dibebaskan dari penangkapan, Cisse mengatakan kepada TV5 Monde Prancis bahwa para penculiknya memindahkan para sandera dengan sepeda motor, perahu, dan bahkan unta.

Cisse mengatakan dia ditahan di 20 lokasi berbeda. Sementara itu dia tidak dianiaya secara fisik atau verbal, namun kekurangan obat yang dibutuhkan selama penyanderaan.

Presiden sementara Mali, Sem Ba N’Daw, menyatakan belasungkawa kepada keluarga dan pendukung Cisse pada hari Jumat, dengan mengatakan jutaan warga Mali “terkejut” dengan berita tersebut.

N’Daw menjelaskan pertemuan dengan Cisse setelah dibebaskan, “optimisme Cisse tetap utuh”, dan negara masih membutuhkan pengalaman dan kebijaksanaannya untuk menghadapi tantangan hari ini”.

Perdana Menteri Sementara Moctar Ouane juga menyampaikan belasungkawa, dalam tweet-nya dia mengatakan, ‘’bahwa seluruh Mali serta benua Afrika berduka atas salah satu putranya yang pemberani”.

Dalam unggahan terakhirnya di Facebook, pada Malam Natal, Cisse mengucapkan “liburan kegembiraan dan kesehatan yang luar biasa” bagi umat Kristiani di negaranya dan di seluruh dunia, pada saat Mali menghadapi berbagai krisis – termasuk pandemi virus corona’’.

Cisse merupakan seorang insinyur dan spesialis IT yang dia pelajari di Senegal dan Prancis, di mana dia bekerja untuk perusahaan besar termasuk IBM sebelum kembali ke Mali.

Komentar

News Feed