Banjir besar Medan kembali menjadi sorotan setelah hujan ekstrem mengguyur kota sejak dini hari. Kejadian ini membuat ratusan warga terpaksa mengungsi ke hotel untuk mencari tempat aman. Fenomena ini langsung menegaskan betapa seriusnya situasi banjir yang terus berulang di beberapa wilayah Medan, terutama kawasan padat penduduk yang berada dekat aliran sungai.
Banjir besar Medan kali ini diawali oleh hujan dengan intensitas tinggi selama lebih dari lima jam berturut-turut. Akibatnya, Sungai Deli dan Sungai Babura meluap hingga membanjiri ribuan rumah. Banyak warga menceritakan bahwa air naik secara cepat, memaksa mereka keluar tanpa sempat menyelamatkan barang penting. Karena sejumlah posko pengungsian penuh, sebagian warga memilih hotel terdekat sebagai tempat berlindung.
Selain itu, banjir besar Medan menimbulkan dampak serius terhadap aktivitas ekonomi. Banyak toko tutup, akses jalan terputus, dan transportasi publik terganggu. Ruas jalan seperti Gatot Subroto, Brigjen Katamso, hingga Asia Mega Mas menjadi lumpuh akibat tingginya genangan. Kondisi ini memperburuk situasi, membuat warga semakin kesulitan beraktivitas.
Di tengah kekacauan tersebut, pemerintah daerah menerjunkan tim BPBD, Basarnas, dan relawan untuk membantu proses evakuasi. Mereka menggunakan perahu karet untuk mengevakuasi anak-anak, lansia, serta warga dengan kebutuhan khusus. Pemerintah juga menjalin kerja sama dengan beberapa hotel untuk memberikan tarif khusus bagi pengungsi sementara.
Namun, banyak pihak menilai banjir besar Medan bukan hanya akibat cuaca ekstrem, tetapi juga dipicu sistem drainase yang tidak memadai serta penyempitan aliran sungai. Sejumlah pakar meminta pemerintah melakukan revitalisasi besar-besaran agar bencana serupa tidak terus berulang.
Ke depan, banjir besar perlu menjadi momentum untuk memperbaiki tata ruang kota dan meningkatkan kesadaran warga dalam menjaga lingkungan. Banjir bukan hanya soal air, tetapi juga tentang kesiapan menghadapi perubahan iklim yang makin tak terduga.
